WONG ASU

wong-asu.jpg

Saat menemukan gambar di atas saya teringat cerpennya Jenar Maesa Ayu. JMA pernah menulis cerpen dengan judul persis dengan postingan ini, judul yang tidak lazim. Tapi pembaca, saya rasa tau artinya.

Potongan ceritanya sebagai berikut; ada sebuah keluarga miskin ibu kota yang melarat dan tidak lagi dapat penghasilan apapun bahkan dari mengemis. Cemoohan, cercaan dan tuduhan pencurian sudah biasa mereka terima. Entah alasannya apa? mereka bisa sampai demikian. Pada akhirnya sang ayah, mendapatkan ide di saat nongkrong di pinggir jalan, pintu masuk sebuah komplek mewah. Dia sering menatap Asu yang kadang berlalu lalang.

Tidak jauh dari tempat dia tinggal, dia tau ada warung yang mejajakan sate anjing, nah dari situlah ide untuk memasok bahan baku warung itu timbul. Akhirnya dia putuskan untuk berburu anjing-anjing yang berkeliaran disekitar rumahnya yang sudah tidak lagi memiliki tuan, saat menjelang malam dia mulai menyiapkan keperluannya, karung goni dan selang besi, dengan peralatannya tersebut dia siap berburu asu.

Dari pekerjaan barunya dia sudah mulai bisa memberikan makan keluarga, dan bahkan kadang dia mendapatkan bonus kepala anjing untuk dibawa pulang, lumayan, bisa makan daging bersama keluarga, dalam hatinya.

Hari demi hari dia semakin lihai mengelabuhi anjing-anjing untuk mendekat, karena dia dan keluarga juga sering memakan daging asu, temperamennya mulai berubah kadang-kadang mereka suka saling mengendus-ngendus, mengangkat kaki saat kencing dan menggonggong juga.

Masyarakat sekitar pun tahu apa yang dilakukannya dan menjulukinya wong asu. Karena persediaan anjing sudah mulai menipis sang ayah mulai merambah ke komplek-komplek mewah untuk mencari asu, sekarang ini, baginya berburu asu, bukanlah hal yang sulit lagi. Karena anjing-anjing komplek malah justru menggonggonginya dan mendekat lalu duduk manis dihadapannya, seperti teman lama yang baru ketemu.

Mungkin karena seringnya dia makan kepala anjing, Anjing juga dapat membauinya wong asu pun dengan mudah menggedik kepalanya lalu melenggang pulang, lama-kelamaan wong asu dan keluarga menunjukkan perilaku yang aneh, di saat purnama tiba mereka bersama-sama keluar ke tanah lapang- berlarian melolongi bulan saling sahut-sautan dengan anjing-anjing komplek.

Pada suatu ketika, saat bulan purnama tiba wong asu dan keluarga berlarian keluar dari gubug reotnya menuju tanah lapang, mereka kejar-kejaran dan melolongi bulan purnama, sang ayah tiba-tiba tertekun menatap wajah-wajah keluarganya yang mulai mirip dengan anjing dia berlari meninggalkan tanah lapang dan anak-anaknya pun mengikutinya ayahnya yang juga sudah berubah menjadi anjing, merekakan pun hilang dibalik kegelapan malam dengan lolongan panjang.

Bagi saya JMA hanya ingin meramalkan bahwa, pada suatu ketika, akan benar-benar terjadi, manusia menjadi sangat tidak manusiawi dan bersama-sama memaksa manusia lain menjadi mahluk yang terhina. Manusia Asu adalah potret realitas kejahatan moral yang dilakukan oleh manusia kepada manusia.




Leave a Comment


You must log in to post a comment.